Ket [Foto]:
Kisah Pilu ODGJ Temanggung: Makan Lewat Atap hingga Tak Sampai 24 Jam Dievakuasi
Temanggung - Pemerintah Kabupaten Temanggung bergerak cepat mengevakuasi seorang warga penderita gangguan jiwa (ODGJ) di Kelurahan Banyuurip, Kamis (23/4/2026). Aksi ini merupakan respons instan kurang dari 24 jam setelah aspirasi warga disampaikan langsung kepada Bupati.
Warga tersebut bernama Bonifasius Prasetia Utama (63), atau akrab disapa Beni. Ia dievakuasi oleh tim gabungan dari Kelurahan Banyuurip, Dinas Kesehatan, dan Dinas Sosial menuju RSUD Temanggung.
Ketua RW II Kelurahan Banyuurip, Satria menjelaskan, evakuasi ini bermula dari curhatannya dalam acara "Rembugan dan Mirunggan" para Ketua RT/RW se-Kecamatan Temanggung di Pendopo Pengayoman, Rabu (22/4/2026) malam.
Tak butuh waktu lama, Bupati Agus Setyawan langsung mendatangi kediaman Satria pada Kamis (23/4/2026) siang untuk mengecek kondisi lapangan secara langsung.
"Alhamdulillah, laporan semalam langsung ditindaklanjuti. Setengah jam setelah Pak Bupati pulang dari rumah saya, ambulans sudah tiba untuk menjemput Pak Beni. Rencananya dilakukan pengobatan di RSUD selama kurang lebih 15 hari, sebelum nantinya difasilitasi oleh Dinas Sosial untuk masuk ke panti rehabilitasi," ujar Satria, Kamis (23/4/2026).
Kondisi Beni tergolong sangat memprihatinkan. Ia diketahui telah hidup sebatang kara selama tiga tahun terakhir sejak anggota keluarga yang tinggal serumah dengannya meninggal dunia. Karena kondisi kejiwaan yang tidak stabil, warga sekitar selama ini berinisiatif menyalurkan bantuan makanan harian dengan cara yang tidak biasa.
"Selama ini, tetangga ikut mengurus makanannya. Karena pintu sering terkunci, warga memberikan makanan melalui celah atap rumah menggunakan tali," ungkap Satria.
Hal senada disampaikan oleh Jumeno, tetangga yang dipercaya memegang kunci rumah Beni. Ia menyebutkan, bahwa Beni sebenarnya merupakan sosok yang terpelajar. Ia menilai, Beni mulai mengalami guncangan jiwa sejak masa kuliah. Kondisinya semakin menurun dalam tiga tahun terakhir.
"Sudah pernah diupayakan pengobatan ke Magelang hingga panti di Purworejo, namun terkendala biaya dan hanya bertahan sebentar. Harapannya, kalau pemerintah turun tangan seperti ini bisa lebih tertangani secara medis," pungkas Jumeno. (Adt;Istw;Ekp)








Tuliskan Komentar anda dari account Facebook