Himpitan Regulasi dan Tata Niaga, Tembakau Lembutan Didorong Jadi Alternatif Petani
Ket [Foto]:

Himpitan Regulasi dan Tata Niaga, Tembakau Lembutan Didorong Jadi Alternatif Petani

Temanggung – Di tengah beragam himpitan masalah regulasi hingga tata niaga tembakau, Bupati Agus Setyawan berharap, agar tembakau lembutan mampu menjadi salah satu solusi alternatif bagi para petani saat musim panen raya tiba. Kendati penyerapan pasarnya tak sebanyak tembakau pabrikan, akan tetapi tembakau lembutan dianggap paling potensial dengan harga yang cukup representatif.

Hal tersebut, ia sampaikan ketika membuka acara Festival Lembutan Bansari ke-7 Tahun 2026 di Desa Gentingsari, Kecamatan Bansari, pada Sabtu (8/8/2026) pagi. Menurutnya, tanaman tembakau bukan sekadar komoditas untuk mengais rejeki semata. Namun sudah menjadi tradisi, sekaligus warisan budaya nusantara secara turun-temurun.

“Keprihatinan terkait problematika yang menghimpit tembakau sudah diketahui bersama oleh banyak pihak. Akhir-akhir ini cukup memprihatinkan. Oleh karena itu, tembakau lembutan menjadi ikhtiar kita, karena menjadi komoditas paling potensial secara ekonomis, meski pangsa pasarnya belum sebesar jenis tembakau pabrikan,” ungkapnya.

Melihat celah pasar yang cukup menguntungkan, Agus mendorong agar para petani di Kabupaten Temanggung tetap konsisten dalam menjaga kualitas produksi tembakau lembutan. Harapannya, secara perlahan pemasaran akan terus meluas seiring sejalan dengan formula tata niaga yang baik guna memperbaiki sisi ekonomi.

“Tembakau lembutan ini juga menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Temanggung. Komoditas ini menjadi dasar untuk melebarkan pasar tembakau, bukan kepada end user pabrikan saja, tetapi kepada konsumen secara langsung,” harapnya. 

Fastival Tembakau Lembutan ke-7 sendiri dibuka dengan kirab yang diikuti oleh ratusan warga dari perwakilan seluruh desa di Kecamatan Bansari. Mereka mengarak gunungan hasil bumi, tumpeng robyong, jajanan pasar, hingga cacak.

Para peserta kirab selanjutnya menggelar prosesi doa bersama agar pemerintah terketuk hatinya, sehingga lebih memperhatikan nasib para petani tembakau yang saat ini tengah memasuki musim panen raya. Mereka juga memohon perlindungan dari berbagai kepentingan yang merugikan kalangan petani tembakau.

Sementara itu, Kepala Panitia Penyelenggara Acara, Yoga Listyawan, mengungkap bahwa Festival Lembutan ke-7 sendiri berlangsung selama tiga hari, 8-10 Agustus 2026 dan diikuti oleh sedikitnya 13 stand dari seluruh desa yang ada di Kecamatan Bansari. 

Selain pameran yang berisi berbagai tembakau lembutan, agenda tersebut juga didukung oleh beragam pertunjukan kesenian hingga panggung hiburan yang diisi oleh Aftershine. Dengan penyelenggaraan agenda secara rutin, masyarakat berharap pemerintah dapat terus mendukung upaya petani agar tembakau lembutan mampu terserap oleh pabrikan, bahkan menjadi komoditas ekspor kebanggaan Indonesia.

“Untuk harga termahal tembakau lembutan di tahun lalu mencapai Rp 1 juta per kilogram. Tahun ini semoga lebih baik lagi harganya, karena faktor cuaca yang lebih mendukung,” pungkasnya. (IFn;Istw;EKp)

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook